Ayah

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Ibu dan Difka

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Keluarga Sakinah,Mawadah,Warohmah

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Difka Audia Hasna

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Curug Simaja

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 12 Agustus 2012

Wasiat terakhir Nabi Muhammad

Wasiat terakhir Nabi Muhammad

Setelah dua bulan melaksanakan haji wada' atau perpisahan, kondisi tubuh Rasulullah SAW terus melemah. Bahkan nabi memerintahkan Abu Bakar Ash-shidiq untuk menggantikannya sebagai imam salat.

Empat hari sebelum wafat, kondisi nabi kembali pulih. Nabi kemudian menyucikan diri, dan pergi salat zuhur berjamaah di masjid bersama para sahabat lain. Namun nabi tidak bisa berjalan sendiri, dia dipapah Abbas bin Abdul Mutholib dan Ali bin Abu Tholib.

Usai melaksanakan salat zuhur, nabi menyerukan kepada seluruh Muslimin untuk selalu berbuat baik kepada golongan Anshar, karena jasanya yang begitu besar kepada Islam. "Allah memberikan karunia kepada hambanya (nabi) satu pilihan, antara dunia dan akhirat. Dia memilih yang terakhir," kata Nabi Muhammad seperti dikutip dari buku Mutiara Akhlak Rasulullah, tulisan Ahmad Rofi Usmani.

Kondisi kesehatan nabi terus tidak stabil. Dalam sehari, terkadang nabi merasakan pergantian sakit dan sembuh seketika. Hingga Senin petang tanggal 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah, di pangkuan Aisyah RA, nabi dikelilingi oleh Muslimin dengan raut muka sedih.

Dalam kondisi yang tiada berdaya, nabi terus mengucapkan kalimat istigfar kepada Allah SWT. Nafasnya tenang, sambil sesekali pandangannya mengarah ke seisi ruangan yang dipenuhi oleh kerabat dan para sahabat setianya.

Dengan suara lirih, bibir nabi bergerak berusaha menyampaikan beberapa kalimat kepada Muslimin yang berada di sekitarnya. "Tegakkanlah salat. Perlakukanlah para hamba sahaya dengan baik," kata nabi.

Usai menyampaikan wasiatnya, nabi kemudian membasuh wajah dan tangannya berkali-kali. "Ya Allah, perkenankanlah aku bertemu dengan Teman yang maha tinggi," lanjut nabi.

Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun, seluruh ruangan tempat nabi berbaring tiba-tiba dipenuhi oleh luapan air mata kesedihan. Dengan tenang, ruh Nabi Muhammad SAW kembali kepada Allah SWT. Seluruh Muslimin berkabung atas meninggalnya panutan sejati mereka.

Jenazah nabi kemudian dimandikan oleh Fadhl bin Abbas, Ali bin Abu Thalib, usman bin Zaid. Esoknya, nabi dimakamkan di dalam rumah Aisyah binti Abu Bakar Ash-shidiq, tempat nabi terakhir menghembuskan nafasnya.

Ya'juj Ma'juj, ancaman terbesar setelah Dajjal

Ya'juj Ma'juj, ancaman terbesar setelah Dajjal 

Dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan bahwa Ya'juj dan Ma'jud merupakan sekumpulan orang atau golongan yang suka membuat kerusakan di bumi. Allah SWT mengabadikan kisah Ya'juj dan Ya'juj dalam Alquran surrah Al-kahfi ayat 83-99.


Dahulu kala, Allah SWT memberikan kekuasaan besar kepada Zulkarnain, sehingga dia berhasil menyatukan wilayah timur dan barat. kegemaran Zulkarnain sebagai pengembara, mengantarkannya kepada suatu kaum yang berada di antara gunung Armenia dan Azerbaijan.

Pada buku ensiklopedia kiamat tulisan Umar Sulaiman Al-Asygar dikatakan, kaum tersebut nyaris tidak memahami perkataan. Mereka mengeluh kepada Zulkarnain, dan memberitahukan bahaya yang mengancam dari Ya'juj dan Ma'juj.

Kaum tersebut memohon kepada Zulkarnain untuk membangun tembok besar yang terbuat dari besi berlapis timah, supaya Ya'juj dan Ma'juj terisolir dan tidak lagi membuat kerusakan di bumi, khususnya kepada kaum mereka.

Melihat kekhawatiran bahaya yang ditimbulkan Ya'juj dan Ma'juj, akhirnya Zulkarnain menyanggupi permintaan kaum tersebut. Dengan bantuan tenaga dan bahan baku besi dari mereka, Zulkarnain mulai memimpin pembangunan tembok di antara dua gunung tersebut.

Zulkarnain membentuk bangunan tembok besi menyerupai gunung, mengerucut dengan permukaan licin ke atas. Sekian waktu dihabiskan untuk membangun, hingga tembok besi seutuhnya dibangun.

"Ini adalah rahmat Tuhanku, Maka jika sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji tuhanku itu adalah benar," kata Zulkarnain.

Allah SWT memastikan Ya'juj dan Ma'juj terkurung sampai datangnya hari yang ditentukan. Yaitu ketika Nabi Isa kembali turun ke bumi dan menumpas Dajjal bersama para pengikutnya, Allah SWT mengizinkan dinding besi itu runtuh dan hancur dengan sendirinya.

Sehingga Ya'juj dan Ma'juj yang berjumlah besar, keluar berbondong-bondong menyerupai air tumpah yang mengalir deras ke tempat rendah.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, keluarnya kaum Ya'juj dan Ma'juj terbagi dalam dua rombongan besar. Daerah pertama yang dilewati adalah danau Thabariyah yang berada di Palestina, kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga berhasil mengepung Nabi Isa bersama Muslimin lainnya pada sebuah dataran tinggi.

Pada masa pengepungan ini, Muslimin mengalami masa paceklik, tidak ada makanan apalagi minum. Nabi Muhammad SAW mengibaratkan Muslimin saat itu berada pada kondisi terparah, jika dibuat perumpamaan, satu kepala sapi lebih berharga dari seratus dinar.

Tidak henti-hentinya Nabi Isa bersama Muslimin berdoa memohon perlindungan, dan pertolongan Allah SWT. Akhirnya Allah mengirimkan ulat-ulat ke leher Ya'juj dan Ma'juj, hingga mereka semua mati dalam kehinaan.

Kemudian nabi bersama Muslimin turun ke dataran rendah. Betapa terkejutya mereka semua, sejauh mata memandang hanya telihat hamparan mayat membusuk dengan bau anyir darah. Tidak ada pemandangan indah saat itu, bumi telah menjadi kuburan massal kaum pembuat kerusakan.

Nabi Isa bersama Muslimin tidak kuasa melihat pemandangan tersebut, kemudian mereka berdoa meminta petunjuk kepada Allah SWT. Tidak lama setelah mereka berdoa, satu persatu burung-burung seperti unta Khurasan, datang mengambil dan membuang jenazah ke tempat yang dikehendaki Allah.

Setelah bersih dari bangkai mayat, Allah SWT lantas menurunkan hujan yang membasahi seluruh tanah, mencuci bumi hingga bersih kembali.

Kamis, 09 Agustus 2012

Menjawab Hujatan Kristen di Madura 2: Tuhan Yang Maha Teroris?

Category: KEBUSUKAN KRISTEN



Buku kristenisasi berwajah Islam berjudul “Yang Haq dan Yang Batil” yang dilaporkan Rauf Al-Jihadi dari Pamekasan Madura ini hanya mengandalkan tudingan bombastis. Setelah menuding Allah yang disembah umat Islam sebagai Tuhan yang Maha Penipu, pada halaman 23 misionaris menuduh Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Teroris. Perhatikan kutipannya:


“Allah Penteror atau Teroris; biasa menjatuhkan ketakutan terhadap pihak lain untuk mencapai keinginannya!


QS. 8:12. “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”


Orang-orang kafir diteror oleh Allah, dan Allah memerintahkan muslim untuk bertindak ganas, melengkapi teror yang telah Allah jatuhkan!”


Itulah tafsir ngawur dan sesat penginjil terhadap Al-Qur'an. Tanpa memperhatikan kaidah dan tidak membaca ayat sebelum dan sesudahnya secara utuh. Lebih-lebih ayat yang dikemukakan hanya dibaca sekilas dan tidak teliti. Matanya hanya terpaku pada kalimat “Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir,” lalu ayat lainnya diabaikan untuk disimpulkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Teror dalam segala hal.


Padahal ayat ini berkenaan dengan Perang Badar, bukan bicara dalam keadaan aman dan damai.

Realita Perang Badar pada waktu itu, kekuatan bala tentara Islam hanya terdiri sekitar 300 orang, sedang tentara musyrikin melebihi 1.000 orang dengan alat persenjataan yang lebih lengkap.


Pada ayat sebelumnya (ayat 9), Allah mengingatkan kaum muslimin tentang pentingnya doa dalam perjuangan. Pertolongan Allah yang diberikan pada saat mereka menghadapi kesulitan dan berusaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu dengan jalan berdoa kepada Allah SWT, karena usaha mereka untuk mengatasi kesulitan dengan usaha lahiriah tidak memungkinkan.


“Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (Qs. Al-Anfal 9).


Menghadapi betapa besar kesulitan dan kendala teknis kaum muslimin dalam Perang Badar, Rasulullah SAW menghadap kiblat dan ia menadahkan tangannya ke atas lalu berdoa kepada Allah SWT:


"Ya Tuhanku, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila sekelompok kecil dari pemeluk agama Islam ini Engkau kalahkan, tentu Engkau tidak disembah lagi di bumi ini." Nabi terus berdoa kepada Tuhan dengan cara menadahkan tangannya ke atas sambil menghadap kiblat sampai serbannya jatuh. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA).


Sesudah itu Allah SWT mengabulkan doa kaum muslimin dengan jalan mendatangkan bala bantuan malaikat yang datang berturut-turut untuk mencapai kemenangan.


“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs Al-Anfal 10).


Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan yang diperoleh kaum Muslimin dalam Perang Badar bukanlah karena kekuatan dan persenjataan, tetapi semata-mata karena bantuan Allah dengan jalan mengirimkan bala tentara dari malaikat.


Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Dengan kekuasaan-Nya Allah memberikan kemenangan kepada umat Muhammad, dan dengan kebijaksanaan-Nya diturunkan kemenangan kepada hamba-Nya yang beragama tauhid dan menghancurkan hamba-Nya yang terjerumus ke dalam kemusyrikan.


Pada ayat 12 –yang dipersoalkan misionaris– dijelaskan bahwa pertolongan Allah kepada umat Islam saat menghadapi musuh kafir pada perang Badar ini diungkap dengan menggunakan kata wahyu (idz yuuhi Rabbuka) yang dilewatkan kepada komunitas malaikat. Para malaikat diperintahkan agar turun memberi pemantapan kepada umat Islam (fatsabbitul-ladziina aamanuu), bahwa dalam ekspedisi Badar nanti Tuhan pasti membela dan menjamin kemenangan.


Ada malaikat yang turun di medan laga dan menempati baris depan kaum Muslimin, ada juga barisan malaikat yang melakukan penyamaran di barisan musuh. Jika dipihak kaum muslimin malaikat menyemangati dan meyakinkan bakal menang, sebaliknya ketika menyusup di tentara kafir, para malaikat menghembuskan sikap pesimis yang menciutkan nyali orang-orang kafir (saulqii fii quluubil-ladziina kafarur-ru’ba). Meski kekuatan mereka tiga kali lipat di atas kaum muslimin, namun hati mereka jauh lebih ciut dan terus dihantui rasa takut.


Keteguhan tekad kaum Muslimin dalam berperang membela agama Allah itu tergambar pula dalam motivasi Rasulullah SAW yang disambut dengan semangat dan sukacita oleh para shahabat. Saat itu, Nabi Muhammad SAW bersumpah: ”Demi Dzat Allah di mana jiwa dan ragaku ada dalam genggaman-Nya. Bahwa tidak satupun di antara yang ikut perang hari ini, asal dengan tulus karena Allah, pasti dijamin masuk surga”.


Mendengar sabda itu, Umair bin Al-Hamam Al-Anshari yang sedang mengunyah korma langsung memuntahkan dan korma yang ada di tangannya juga dibuang. Dia berperang dan ternyata terbunuh syahid. Selamat wahai Umair, silakan menikmati surga.


Adanya semangat mati syahid di pihak Islam dan ketakutan di pihak kafir dalam Perang Badar ini diakui oleh sejarawan Inggris William Muir yang masyhur dalam buku The Life of Mahomed tahun yang ditulis pada tahun 1857.


Dengan demikian kaum Muslimin dapat menguasai pertempuran, mereka dapat maju dengan tangkas dan memenggal kepala-kepala musuh serta dengan mudah pula mereka mematahkan serangan musuh.


Kekuatan tauhid sebagai penopang kemenangan dalam perjuangan, ditegaskan dalam ayat berikutnya (ayat 13), bahwa sebab-sebab kemenangan kaum Muslimin dan kekalahan kaum musyrikin, yaitu karena bantuan Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin dalam menghadapi kaum musyrikin dan perjuangan mereka dilandaskan kepada kebenaran, yaitu menegakkan agama tauhid. Sedang kaum musyrikin menderita kekalahan karena mereka itu memusuhi Allah dan Rasul-Nya dan perjuangan mereka dilandaskan kepada kebatilan yaitu perjuangan-perjuangan mempertahankan berhala.


Jelaslah dari penjelasan tersebut, tindakan Allah memberikan rasa takut kepada jiwa orang-orang kafir dan memberikan support kekuatan kepada para mujahid, adalah tindakan yang tepat sesuai dengan keadilan dan firman-Nya:


“Agar Allah menetapkan yang haq (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya” (Qs Al-Anfal cool.


Jadi, tidak masalah jika Allah dikatakan menteror mental orang-orang kafir. Karena dalam akidah Islam, Allah adalah Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Suci dan Maha Bijaksana (Qs. Al Hasyr 22-24) yang bisa membolak-balikkan hati manusia.


Justru aneh jika Tuhan tidak mampu menjatuhkan mental orang-orang yang memusuhi agama dan nabi-Nya. Allah dalam aqidah Islam tak punya sifat ‘lebay’ yang gampang menyesal dan pilu hati seperti yang diajarkan Bibel (Kejadian 6: 5-6).


Jihad Pantang Menyerah Tak Ada dalam Bibel


Ayat Al-Qur'an yang mengisahkan Allah mengabulkan doa Nabi Muhammad untuk memberikan kemenangan atas orang-orang kafir, dianggap aneh oleh misionaris Kristen. Sehingga fakta bahwa Allah memberikan rasa takut kepada orang kafir dalam menghadapi para mujahid Islam, dianggap sebagai tindakan aneh yang tidak patut, dengan tudingan keji bahwa Tuhannya umat Islam itu Maha Teroris. Na’udzubillahi minzalik.


Narasi ayat-ayat Al-Qur'an tentang optimisme dan perjuangan ini terasa aneh jika harus disamakan dengan narasi Bibel tentang perjuangan Yesus menghadapi sadisnya orang-orang kafir yang ingin membunuhnya di tiang salib.


Dalam kisah pra-penyaliban, di Taman Getsemani Yesus berdoa kepada Tuhan agar dibebaskan dari cawan kematian di tiang salib: “Kata Yesus: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari padaku” (Markus 14:36; Matius 26: 39).


Ternyata doa ini tidak dikabulkan, sehingga Yesus harus menghadapi kematian tragis di tiang salib. Lebih tragis lagi, di akhir hayatnya Yesus ditinggalkan oleh Tuhan, sehingga Yesus berteriak-teriak memanggil Tuhan:


“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Matius 27:46, Markus 15:34, Lukas 23:44-46).


Mentalitas para shahabat yang gagah berani membela Rasulullah SAW yang dikisahkan Al-Qur'an dan Hadits pun bertolak belakang dengan mentalitas para murid kesayangan Yesus yang dikisahkan Bibel.


Keempat Injil milik umat Kristen menceritakan bahwa para murid Yesus adalah orang-orang yang tidak militan dan tidak bertanggung jawab terhadap kebenaran dan keselamatan Yesus. Buktinya, ketika Yesus dibekuk aparat tentara untuk dieksekusi di atas kayu salib, semua muridnya lari tunggang-langgang meninggalkan Yesus, tak satupun yang mau membela dan menjaga keselamatan Yesus. Kisah selengkapnya baca Markus 14:46-50.


Ketika dihadapkan di pengadilan negeri dengan ancaman hukuman mati, Yesus sangat membutuhkan pembelaan para muridnya. Ternyata, Petrus, murid kesayangan Yesus, justru menyangkal dan menolak tuduhan sebagai murid Yesus. Injil Markus 14: 68-71 mencatat tiga kali penyangkalan.


Dengan membandingkan semangat juang, patriotisme dan kisah heroik dalam Al-Qur'an dan Bibel, maka pilihan terbaik bagi pejuang yang berakal adalah keteladanan Al-Qur'an.

Selasa, 07 Agustus 2012

Mengenal penghuni 7 tingkatan langit

Mengenal penghuni 7 tingkatan langit
Isra Miraj merupakan peristiwa besar yang dialami oleh nabi Muhammad SAW. Wajib hukumnya untuk Muslimin mengimani dan meyakini sebagai suatu kebenaran dari Allah SWT. Pada peristiwa itu Nabi Muhammad SAW bertemu Allah SWT, dan mendapat perintah menjalankan salat 5 waktu sehari.

Dalam perjalanan bertemu Sang Pencipta, Rasullulah ditemani malaikat Jibril dengan mengendarai Buraaq. Yaitu hewan putih panjang, berbadan besar melebihi keledai dan bersayap. Sekali melangkah, Buraaq bisa menempuh perjalanan sejuah mata memandang dalam sekejap.

Rasullulah SAW melewati 7 langit dan bertemu dengan para penghuni di setiap tingkatan. Kabar ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan imam Muslim dari Anas bin Malik.

1. Ketika mencapai langit tingkat pertama, Rasullulah SAW bertemu dengan manusia sekaligus wali Allah SWT pertama di muka bumi, Nabi Adam AS. Saat bertemu nabi Adam, Rasullulah sempat bertegur sapa sebelum akhirnya meninggalkan dan melanjutkan perjalanannya.

Nabi Adam membekali rasullulah dengan doa, supaya rasullulah SAW selalu diberi kebaikan pada setiap urusan yang dihadapinya. Sambil mengucapkan salam, rasullulah meninggalkan langit pertama untuk menuju langit kedua.

2. Sesampainya di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Seperti halnya di langit pertama, rasullulah disapa dengan ramah oleh kedua nabi pendahulunya. Sewaktu akan meninggalkan langit kedua, Nabi Isa dan Yahya juga mendoakan kebaikan kepada rasullulah. Kemudian rasullulah bersama Malaikat Jibril terbang lagi menuju langit ketiga.

3. Tidak disangka, di langit ketiga, rasullulah bertemu dengan Nabi Yusuf, manusia tertampan yang pernah diciptakan Allah SWT di bumi. Dalam pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan sebagian dari ketampanan wajahnya kepada Nabi Muhammad. Dan juga di akhir pertemuannya, Nabi Yusuf memberikan doa kebaikan kepada nabi terakhir itu.

4. Setelah berpisah dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan dan sampailah dia ke langit keempat. Pada tingkatan ini, rasullulah bertemu Nabi Idris. Yaitu manusia pertama yang mengenal tulisan, dan nabi yang berdakwah kepada bani Qabil dan Memphis di Mesir untuk beriman kepada Allah SWT.

Seperti pertemuan dengan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Idris memberikan doa kepada Nabi Muhammad supaya diberi kebaikan pada setiap urusan yang dilakukannya.

5. Sesampainya di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun. Yaitu nabi yang mendampingi saudaranya, Nabi Musa berdakwah mengajak Raja Firaun yang menyebut dirinya tuhan dan kaum Bani Israil untuk beriman kepada Allah SWT.

Harun terkenal sebagai nabi yang memiliki kepandaian berbicara dan meyakinkan orang. Di langit kelima, Nabi Harun mendoakan Nabi Muhammad senantiasa selalu mendapat kebaikan pada setiap perbuatannya. Setelah bertemu, kemudian Nabi Muhammad melanjutkan perjalanannya ke langit keenam.

6. Pada langit keenam, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Musa. Yaitu nabi yang memiliki jasa besar dalam membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan menuntunnya menuju kebenaran Illahi. Nabi Musa juga terkenal dengan sifatnya yang penyabar dan penyayang selama menghadapi kolot dan bebalnya perilaku Bani Israil.

Selama bertemu dengan Muhammad, Nabi Musa menyambut layaknya kedua sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Penuh kehangatan dan keakraban. Sebelum Nabi Muhammad pamit meninggalkan langit keenam, Nabi Musa melepasnya dengan doa kebaikan.

7. Tibalah Nabi Muhammad ke langit ketujuh. Di langit ini, Nabi Muhammad bertemu dengan sahabat Allah SWT, bapaknya para nabi, Ibrahim AS.

Sewaktu bertemu, Nabi Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur, yaitu suatu tempat yang disediakan Allah SWT kepada para malaikatnya. Setiap harinya, tidak kurang dari 70 ribu malaikat masuk ke dalam.

Kemudian Nabi Ibrahim mengajak Muhammad untuk pergi ke Sidratul Muntaha sebelum bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah wajib salat. Sidratul Muntaha merupakan sebuah pohon yang menandai akhir dari batas langit ke tujuh. Masih dalam hadits yang sama, rasullulah SAW menceritakan bentuk fisik dari Sidratul Muntaha, yaitu berdaun lebar seperti telinga gajah dan buahnya yang menyerupai tempayan besar.

Namun ciri fisik Sidratul Muntaha berubah ketika Allah SWT datang. Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak bisa berkata-kata menggambarkan keindahan pohon Sidratul Muntaha. Pada kepecayaan agama lain, Sidratul Muntaha juga diartikan sebagai pohon kehidupan.

Di Sidratul Muntaha inilah Nabi Muhammad berdialog dengan Allah SWT, untuk menerima perintah wajib salat lima waktu dalam sehari.

Karena buang air kecil, seseorang bisa mendapat siksa kubur

Karena buang air kecil, seseorang bisa mendapat siksa kubur

Rasullulah SAW menekankan kepada para sahabatnya, untuk senantiasa bersuci dari najis besar dan kecil. Di samping bersih, kebiasaan bersuci juga dicintai Allah dan bisa mendekatkan seorang hamba kepada para Malaikat. Sebaliknya, kebiasaan tidak bersuci justru mendekatkan seorang hamba kepada perbuatan hina, dan mendatangkan siksa kubur.

Ketika suatu waktu Rasullulah SAW bersama beberapa sahabat berjalan melewati pekarangan kuburan, dengan tenang dia melewati deretan nisan yang terjejer rapih. Hingga Nabi Muhammad SAW menghentikan langkahnya pada dua buah makam di samping kanan dan kirinya.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, diceritakan bahwa setelah nabi sampai pada dua makam tersebut, kemudian nabi mengatakan kondisi dua jenazah di dalam tanah kepada para sahabat.

Satu jenazah sedang mengalami siksaan hebat yang dilakukan oleh Malaikat Munkar dan Nakir. Bukan karena dosa besar yang dia kerjakan selama di dunia, namun karena kebiasaannya mengadu domba yang menyebabkan kedua malaikat itu menyiksanya.

Sedangkan alasan Malaikat Mungkar Nankir menyiksa jenazah di liang lahat satunya, karena kebiasaan sepele jenazah yang tidak diubahnya selama masih di dunia. Dia selalu tidak bersuci setelah buang air kecil. Kebiasaan buruk itulah yang menyebabkan dua malaikat Allah SWT itu memberikan siksaan seperti siksa kepada orang-orang yang melakukan dosa besar.

Mendengar teriakan kesakitan dari kedua jenazah tersebut, kemudian Rasullulah SAW meminta kepada salah satu sahabat untuk mengambilkan pelepah daun kurma. Setelah itu, Nabi Muhammad membelah pelepah menjadi dua bagian dan menancapkan masing-masing kepada dua nisan sambil berdoa.

Dalam doa, Rasullulah SAW berharap semoga pelepah tersebut dapat meringankan siksa kedua jenazah yang mengerang kesakitan, selama pelepah belum kering.

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda "Sucikanlah dirimu dari air kencing, karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya." Riwayat Daruquthni.

Syahidnya Penjual korek api

Syahidnya Penjual korek apiSetelah melepaskan kekafirannya dan bergabung bersama sahabat Rasullulah SAW, Mus'ab bin Umar hidup serba kekurangan. Tidak pernah lagi dia jumpai daging panggang dalam makan malamnya, hanya lauk sederhana yang mengenyangkan perutnya. Bahkan jika dahulunya dia tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang, kini dia harus berjualan korek api untuk menyambung hidupnya.

Dalam buku 99 kisah menakjubkan dalam Alquran tulisan Ridwan Abqary dikatakan, awalnya Mus'ab bin Umar merupakan anak dari suku Quraisy terpandang, keluarganya hidup dalam kemewahan. Tidak urung kondisi itu berpengaruh kepada Mus'ab. Setiap hari dia tampil dengan memakai pakaian mahal dan bagus, banyak gadis Arab jatuh hati kepadanya, terlebih sikap Mus'ab yang ramah dan lembut, membuat dia disukai banyak orang.

Namun semua berbalik drastis ketika Mus'ab memeluk Islam, dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW. Tidak ada pakaian bagus yang dikenakannya, tubuhnya hanya terlindungi oleh potongan kain-kain yang sudah usang. Bahkan ketika kembali dari Habasyah bersama nabi, Mus'ab terlihat kurus dan tidak terawat.

"Segala puji bagi Allah SWT yang telah menukar dunia dengan penduduknya. Sesungguhnya, dahulu saya melihat Mus'ab seorang pemuda yang hidup mewah di tengah orang tuanya yang kaya. Kemudian, dia meninggalkan semua itu karena kecintaannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya," kata Rasullulah SAW.

Tidak hanya itu, setelah masuk Islam, Mus'ab dikucilkan dari lingkungan keluarganya. Bahkan ibunya, Khunais binti Malik beberapa kali berniat bunuh diri, jika Mus'ab tetap memeluk Islam dan tidak bersedia kembali kepada berhala-berhala. Namun semua itu tidak menyurutkan Mus'ab untuk tetap menjadi Muslim, hingga akhirnya dia diusir dari pelataran rumahnya.

Keteguhan hati si penjual korek, justru menyadarkan adik Mus'ab, Al-Rum untuk masuk Islam. Ketertarikan Al-Rum kepada Islam dia dapatkan karena ibunya selalu memerintahkannya untuk mendatangi Mus'ab mengajak kafir kembali.

Puncaknya ketika terjadi perang Uhud. Mus'ab bersama Al-Rum yang sudah memeluk Islam, ikut bersama para sahabat lainnya di barisan depan untuk menumpas kaum kafir yang memusuhi Islam. Rasullulah SAW sendiri menugasi Mus'ab membawa bendera Islam.

Pada saat para sahabat terdesak oleh tentara Quraisy dan menderita kekalahan, banyak kaum Islam kocar-kacir meninggalkan medan pertempuran. Namun pantang untuk Mus'ab. Dengan gagah berani dia tetap tidak beranjak dari tempatnya, mengibarkan bendera Islam di tengah medan pertempuran.

Melihat Mus'ab yang tetap berdiri, seorang tentara kafir, Ibnu Qamiah segera menunggangi kudanya dan melaju ke arah Mus'ab. Tanpa banyak bicara, disabetnya tangan kanan Mus'ab yang sedang mengibarkan bendera. Tidak lama kemudian, tangan kiri Mus'ab juga tidak luput dari sabetan pedang.

Mus'ab menjerit menahan rasa sakit kedua tangannya terpotong. Namun dengan sekuat tenaga dia peluk bendera Islam. Kemarahan Ibnu Qamiah memuncak, kemudian tombaknya dia hunuskan ke dada Mus'ab hingga akhirnya syahid menghembuskan nafas.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Daud dikatakan, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tatkala saudara-saudaramu ditimpa malapetaka waktu perang Uhud, maka Allah menjadikan roh-roh mereka dalam rongga tubuh burung-burung hijau yang selalu mendatangi sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya serta berlindung dalam kandil-kandil emas di bawah naungan Arasy."

"Ketika terasa oleh mereka bagaimana nikmatnya makanan dan minuman serta indahnya tempat tinggal mereka, mereka berkata, 'Wahai malangnya nasib teman-teman kita, kenapa mereka tidak mengetahui balasan yang disediakan Allah bagi kita, agar mereka tidak merasa enggan untuk berjihad dan tidak mengabaikan peperangan.' Maka Allah pun berfirman, 'Akulah yang akan menyampaikan kepada mereka berita dari kamu itu,' lalu diturunkan-Nyalah ayat, 'Dan janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati."

Akibat tergiur harta dunia

Akibat tergiur harta dunia

Hampir setiap pertempuran melawan kaum kafir atau musrik, Rasullulah SAW bersama sahabatnya selalu menguasai jalannya peperangan dan berakhir kemenangan. Sebut saja perang Badar, perang Khandak dan masih banyak lagi. Namun saat perang Uhud, pasukan Muslimin mengalami kekalahan telak karena lebih memilih harta rampasan perang, daripada menuruti perintah Rasullulah SAW.

Setelah kalah dengan tentara Muslimin pada perang Badar, kaum kafir berencana balas dendam. Perang Uhud adalah jalan untuk mewujudkan rencananya itu.

Saat perang, tentara kafir berjumlah 3.000 dan dipimpin langsung Abu Sufyan. Dari jumlah itu, sebanyak 100 prajurit berkuda. Sedangkan umat Islam berjumlah 700 personil dipimpin oleh Rasullulah SAW. Awalnya kekuatan Muslimin berjumlah 1.000, namun yang 300 menarik diri dari peperangan. Dari 700 personil, Nabi Muhammad SAW menempatkan sebanyak 50 pasukan pemanah di sekitaran lereng bukit Uhud.

Sebelum peperangan, Rasullulah SAW berkali-kali memperingatkan kepada pasukan pemanah untuk tetap berada di lereng bukit. Meskipun pasukan Muslim mengalami kekalahan perang, tidak diperkenankan pasukan panah meninggalkan pos penjagaannya.

Kontur bukit Uhud yang bergunung-gunung, memberikan keuntungan kepada pasukan Islam selama perang berkecamuk. Satu persatu darah pasukan kafir bercucuran. kebiasaan pasukan kafir yang berperang dengan membawa harta kesayangannya termasuk istri dalam berperang, menggiurkan pasukan panah Muslimin untuk berebut harta rampasan (ghonimah) yang berceceran di arena pertempuran.

Awalnya pasukan pemanah tidak tergoda dengan banyaknya harta rampasan kaum kafir, namun melihat pasukan kaum kafir yang dipimpin Abu Sufyan lari terbirit-birit meninggalkan pertempuran, menggoda pasukan pemanah untuk turun bukit menjarah harta.

Dalam buku strategi perang Rasullulah tulisan Muhammad Abu Ayyasy diceritakan, seakan lupa akan amanah Nabi Muhammad SAW, pasukan panah dengan semangat berlari menuruni bukit. Betapa senangnya mereka menadapatkan beragam harta rampasan. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama, sewaktu pasukan kafir melihat kondisi itu, spontan mereka yang sebelumnya lari berbalik arah mengambil alih bukit Uhud dan sebagian lagi kembali bertarung menghadapai pasukan Muslimin.

Keadaan berbalik drastis, pasukan Muslimin terdesak, sahabat nabi yang syahid tidak terhitung lagi jumlahnya. Tawa riang pasukan pemanah yang mengambil ghonimah, berubah menjadi tangis darah.

Diperkirakan sekitar 70 sahabat dan Rasullulah SAW menemui syahid. Di antaranya paman nabi bernama Hamzah bin Abdul Mutholib yang dibunuh oleh budak tokoh Quraisy bernama Zubair bin Mut'im. Nabi Muhammad menderita luka lebam hampir disekujur tubuh, gigi seri Rasullulah SAW lepas, dan berkali-kali nabi jatuh dihujani batu-batu hingga terperosok ke dalam lubang.

Penderitaan Muslimin tidak berhenti sampai di situ. Setelah kalah dalam peperangan, posisi Islam di Makkah terancam. Banyak penguasa arab yang awalnya mendukung nabi justru berbalik menyerahkan dukungannya kepada kaum kafir, sehingga kekuatan Quraisy bertambah. Setiap harinya, agama Islam selalu menjadi bahan olok-olokan di kalangan Quraisy.

"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu."

"Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." surrah Ali 'Imran ayat 152-153.